Epin Solanta – Guru Sosiologi SMA Strada Bhakti Wiyata Bekasi

Sulit untuk dinafikan bahwa hidup dan seluruh proses sosial kehidupan kita hari ini masih diwarnai oleh “ketakutan” yang disebabkan pandemi covis-19. Normalitas baru menjadi konsep yang paling tepat untuk melukiskan kondisi ril kehidupan kita saat ini. Berbagai aturan dan kebijakan terus diproduksi. Meskipun dengan nomenklatur yang berbeda-beda tetapi tujuannya sama yaitu memutus mata rantai penyebaran covid-19. Tatkala ruang sosial kita dibatasi oleh aturan-aturan baru tersebut, kita tidak perlu lagi kembali ke belakang sembari memberi catatan kritis, semisal kenapa kebijakan tersebut tidak diperketat sejak awal. Ini hanya menambah beban pikiran yang justru berdampak pada menurunnya imun tubuh kita. Pilihan terbaik saat ini adalah adaptasi dengan perubahan yang baru. Tuntutan untuk berubah dari kebiasaan lama menjadi sebuah keharusan untuk tujuan atau buah yang maksimal.

Tulisan ini tidak berusaha untuk melukiskan seluruh dimensi pokok kehidupan manusia. Penulis hanya menyinggung proses aktif pendidikan kita hari ini yang “terpaksa” masih dimediasi oleh teknologi. Ruang perjumpaan antara guru, para siswa, dan orang tua bukan lagi terjadi pada ruang fisik (sekolah), melainkan pada ruang “media sosial”. Kenyataan ini sulit untuk dihindari, meskipun pada beberapa pelosok di negeri yang kita cintai ini, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) masih terus berlanjut. Penulis sendiri merasa tertarik untuk “mengingatkan” kita semua terutama para guru, peserta didik dan juga orang tua untuk senantiasa “berubah” cara berpikir dan juga perilaku dalam hubungannya dengan konsep pendidikan kita di masa pandemi ini.

Berubah

Covid-19 semakin “mengganas”. Ini satu dari sekian banyak pernyataan yang kini berseliweran di media sosial. Pernyataan ini sesungguhnya tidak untuk menakuti-nakuti kita, tetapi lebih kepada “awasan” agar kita lebih berhati-hati dan memilih “jalan” untuk menyelamatkan diri dan keluarga. Caranya? Tentu saja dengan mematuhi protokol kesehatan dan menjalankan setiap kebijakan pemerintah, tanpa perlu harus melakukan “resistensi” yang berlebihan.

Pembelajaran daring, work from home, Belajar Dari Rumah (BDR) merupakan konsep baru yang diperkenalkan pada kita semua di masa pandemi seperti ini. Konsep-konsep tersebut marak terjadi pada institusi pendidikan. Memang faktanya demikian. Pola pendidikan kita hari ini mayoritas terjadi pada dunia maya. Pertanyaan pentingnya adalah apakah proses dan dinamika pembelajaran secara virtual bisa mereduksi (mengurangi) nilai dan makna dari pendidikan itu sendiri? Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Semuanya ini sangat tergantung dari setiap subyek-subyek dan juga objek-objek yang mendukung proses pembelajaran yang baru.

Disinilah konsep “berubah” itu masuk. Baik guru maupun para siswa misalnya “mungkin” selama ini terbiasa atau masih berada dalam “zona nyaman” sebelum terjadinya pandemi. Guru menerangkan materi bisa saja dilakukan secara manual di kelas. Bahkan tidak sedikit yang masih menggunakan cara-cara “konvensional” seperti mendikte. Sementara itu, para siswa merasa nyaman tatkala proses pembelajaran itu berlangsung di “ruangan fisik” seperti ruangan kelas. Proses tanya jawab, diskusi sampai dengan curahan hati (curhat) lebih efektif dan efisien. Kini, situasinya berubah dan kita pun dituntut untuk senantiasa berubah agar makna dan tujuan pendidikan itu sendiri bisa terwujud.

Apa yang harus dilakukan?

Perubahan syarat dengan hal-hal yang sifatnya paradoks. Di satu sisi ada sebuah kerinduan untuk senatiasa belajar dan berproses dengan “kebiasaan baru”, tetapi pada saat yang bersamaan, jiwa dan raga kita masih terkontaminasi dengan “kebiasaan lama”. Dalam konteks pendidikan kita hari ini, tak sedikit juga guru yang nyaman dengan metode-metode mengajar yang lama. Tetapi tatkala ruang perjumpaan dengan siswa harus dimediasi oleh teknologi, maka suka atau tidak suka, para guru juga harus mampu beradaptasi serta belajar hal-hal baru terutama yang berkaitan dengan “teknologi pembelajaran”.

Untuk bisa mewujudkan semuanya itu atau sederhananya adalah untuk bisa berubah harus diawali dengan cara berpikir. Cara berpikir kita selalu berorientasi bukan saja pada “materi bisa tersampaikan”, melainkan juga memastikan para siswa “memahami” atau tidak, “menyenangkan” atau tidak. Ini penting sekali. Selanjutnya, yang kita lakukan adalah “memastikan” bahwa nilai-nilai atau pendidikan karakter sangatlah penting dalam situasi seperti ini. Pendidikan karakter terutama yang berkaitan dengan situasi pandemi terus diingatkan dan dipompa secara maksimal. Mulailah dari hal-hal yang kecil seperti senyum, sapa serta “menyemangati” para siswa agar tidak jenuh/ bosan. Kemudian dilanjutkan dengan motivasi serta dukungan untuk senantiasa patuh dan taat pada protokol kesehatan.

Sementara itu, bagi para siswa, momentum ini tidak untuk dijadikan kesempatan “bermalas-malasan” dalam berkompetisi. Tetapi ini adalah kesempatan untuk bisa menjalankan kehidupan pada “realitas media” sesuai dengan etika dan norma bermedia. Selain itu, para siswa juga tetap berkompetisi secara jujur agar apa yang dicita-citakan dapat terwujud. Berbuah yang manis dan positif hanya didapatkan oleh orang-orang yang ingin berubah dan memiliki kemauan untuk beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang baru.

Epifanius Solanta,S.Sos