(Refleksi Hari Pramuka)

Bapak Pramuka Dunia, Robert Baden Powell dalam suatu kesempatan pernah mengatakan demikian: “Seorang pramuka tidak pernah terkejut. Dia tahu apa yang harus dilakukan ketika sesuatu yang tak terduga terjadi”. Seruan ini masih mendapatkan ruang relevansi dalam konteks kehidupan masyarakat utamanya seorang pramuka. Sebelum penulis mengelaborasi dan menjelaskan lebih jauh pernyataan di atas, terlebih dahulu penulis mengajak pembaca sekalian untuk melakukan “anamnesis” perihal kelahiran Hari Pramuka.

Dalam konteks historisnya, istilah Hari Pramuka sebelumnya dikenal sebagai gerakan kepanduan. Gerakan ini dicetuskan oleh Robert Baden Powell, seorang anggota Angkatan Darat di Inggris. Dalam sebuah karya akademiknya berjudul Scouting for Boys, Powell menulis intisari dari gerakan kepanduan yang berorientasi sebagai panduan bagi remaja untuk melatih keterampilan dan ketangkasan, cara bertahan hidup, hingga pengembangan dasar-dasar moral.

Dalam konteks Indonesia, gerakan kepanduan sudah ada sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Tepat pada tahun 1916, Mangkunegara VII di Surakarta memprakarsai berdirinya Javaansche Padvinders Organisatie. Kemudian dalam perjalanan selanjutnya, bermunculan juga organisasi-organisasi pergerakan lainnya seperti Boedi Oetomo, Sarekat Islam, dll. Sedangkan sitilah Pramuka sendiri resmi digunakan pada 14 Agustus 1961. Istilah Pramuka dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX, yang terinspirasi dari kata Poromuko yang artinya pasukan terdepan dalam perang. Adapun misi utama dari gerakan Pramuka adalah untuk mendidik pemuda dan pemudi Indonesia, dari usia anak-anak, demi meningkatkan rasa cinta tanah air dan bela negara.

Masih Relevan dan Akan Terus Relevan

Gerakan Pramuka dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara mendapatkan ruang yang istimewa. Hal ini tidak terlepas dari misi mulia yang terkandung dalam tubuh gerakan itu sendiri. Gerakan yang berorientasi pada pembentukan karakter beserta nilai-nilai moralitas dan etika langsung disambut dengan baik dan penuh antusias oleh lembaga pendidikan. Gerakan Pramuka dalam konteks pendidikan selanjutnya dijadikan “menu wajib” yang terbungkus rapih dalam format ekstrakurikuler pramuka. Para siswa diwajibkan untuk mengikuti ekstrakurikuler pramuka. Kewajiban ini tentu punya alasan yang sangat mendasar. Bukan semata-mata agar terlihat “keren dan kece” saat memakai semua atribut pramuka, bukan pula dijadikan ajang untuk mempertontonkan senioritas-junioritas atau semata-mata sebagai wadah untuk mengungkapkan perasaan yang berujung pada dambaan hati. Pada prinspnya, kewajiban mengikuti ektrakurikuler ini karena dipandang penting sebagai langkah awal untuk membangun relasi sosial yang harmonis, memperluas jejaring sosial/ pertemanan dan yang paling penting adalah menjadi pribadi yang disiplin, kreatif, inovatif serta selalu siap, siap dan ya untuk bergerak.

Ruang-ruang kebangsaan kita hari ini kerapkali disesaki dengan berbagai macam persoalan yang jika tidak sigap untuk ditangani, akan bermuara pada perpecahan (disintegrasi bangsa). Tatkala kita masih dicengkeram oleh pandemi covid-19, tak sedikit anak bangsa yang justru mempertontonkan “kedunguannya” dengan memproduki berita-berita hoax kemudian diviralkan di media sosial. Pada beberapa pelosok negeri ini, terdengar jelas dentuman (gencatan senjata) antara TNI/Polri dan KKB di Papua. Tatkala pemerintah fokus memberikan kebijakan untuk menjaga jarak dan mengurangi tingkat kerumunan, tak sedikit orang mencari sensasi untuk mengumpulkan massa dan berencana untuk menggelar aksi yang berpotensi pada munculnya kerumunan sebagai awal dari kelahiran cluster baru virus corona. Kondisi yang sangat memprihatinkan ini membutuhkan kerja-kerja yang ekstra. Sebenarnya langkah ini tak seharus dan selamanya menjadi tugas pemerintah, tetapi mulai dari diri kita sendiri, utamanya lingkup keluarga. Bahkan dalam konteks seperti inilah, sebuah gerakan pramuka dimaknai sebagai gerakan yang bertujuan untuk memompa semangat persatuan dan meningkatkan rasa nasionalisme pada bangsa Indonesia.

Pramuka, Pelajar dan Pandemi

Perayaan Hari Pramuka tahun ini berlangsung dalam suasana pandemi. Hal ini tentu saja tidak untuk mengurangi atau bahkan meniadakan sama sekali baik upacara Hari Pramuka itu sendiri maupun makna yang terkandung di dalamnya. Justru dalam momentum seperti ini, kita utamanya para pelajar akan ditantang nalar kritis dan kreatifnya dalam memformat kegiatan pramuka sehingga tetap berjalan dengan lancar dan memberikan sinyal positif dan makna yang mendalam baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan sekolah, masyarakat dan Negara pada umumnya.

Kini dalam situasi pandemi, para pelajar pramuka sejatinya menjadi garda terdepan dalam melahirkan simponi-simponi merdu untuk menyemarak Hari Pramuka. Para pelajar pramuka senantiasa memainkan orkestra yang bertujuan untuk menghibur kegalauan dan kejenuhan masyarakat bangsa akibat pagebluk covid-19. Para pelajar pramuka pun selalu diandalkan menjadi pribadi yang adaptif terhadap perubahan. Proses pembelajaran daring hendaknya tidak menjadi batu sandungan yang menjurus pada lahirnya rasa malas dan bosan untuk menikmati pendidikan, melainkan sebagai ujian untuk terus melakukan kerja-kerja inovatif dan kreatif. Satu hal yang paling penting sekaligus menjadi akhir dari tulisan ini, pelajar pramuka hendaknya selalu siap, sedia dan berkata ya dalam menjalankan misi kemanusiaan di tengah pandemi. Saling berbagai dan meningkatkan solidaritas menjadi kunci dalam menyelamatkan sesama. Teruslah menjadi pelajar pramuka yang produktif, disiplin tinggi, berkarakter serta humanis bagi bangsa dan Negara. Selamat Hari Pramuka.

 

Epin Solanta

Guru Sosiologi di SMA Strada Bhakti Wiyata, Bekasi